Rangkuman Materi IPS Kelas 8: Penjelajahan Samudra, Kolonialisme, dan Imperialisme (Terlengkap)

Pernahkah kamu berpikir, kenapa secuil buah pala atau cengkeh yang ada di dapur kita saat ini dulu harganya bisa setara dengan emas di Eropa? Ratusan tahun yang lalu, bangsa-bangsa besar di Eropa rela mengarungi samudra, menempuh ribuan kilometer, bahkan berperang satu sama lain hanya untuk menemukan 'Surga Rempah' yang sekarang kita sebut Indonesia.
Indonesia memang selalu menjadi primadona dunia karena letaknya yang strategis dan tanahnya yang surga. Namun, anugerah ini jugalah yang mengundang datangnya kapal-kapal asing dengan ambisi Gold, Glory, dan Gospel. Nah, sebenarnya apa sih yang menyebabkan bangsa kita bisa dijajah hingga 350 tahun? Yuk, kita kupas tuntas materi IPS Kelas 8 tentang Penjelajahan Samudra, Kolonialisme, dan Imperialisme bersama-sama di bawah ini.
Apabila kamu membutuhkan latihan soal untuk materi ini, kamu dapat mengaksesnya melalui tautan berikut ini.
Indonesia sejak lama dikenal sebagai "Mutiara dari Timur" karena kekayaan alamnya. Letak geografis yang strategis di jalur perdagangan internasional memang menguntungkan, namun daya tarik utama yang memikat bangsa Eropa adalah rempah-rempah seperti cengkeh, pala, dan lada. Di Eropa yang dingin, rempah-rempah sangat berharga untuk menghangatkan tubuh dan mengawetkan daging saat musim dingin.
Awalnya, bangsa Eropa membeli rempah dari pedagang Asia di kota Konstantinopel. Namun, situasi berubah total karena beberapa faktor pendorong utama, seperti yang dijabarkan berikut ini.
-
Jatuhnya Konstantinopel (1453)Kota dagang utama ini jatuh ke tangan Turki Utsmani. Akibatnya, jalur perdagangan darat antara Asia dan Eropa terputus. Bangsa Eropa kesulitan mendapatkan rempah-rempah, dan harganya melambung sangat tinggi. Hal ini memaksa mereka mencari jalan sendiri ke sumber rempah-rempah melalui laut.
-
Semangat 3G (Gold, Glory, Gospel)
- Gold (Kekayaan): Tujuan ekonomi untuk mencari keuntungan besar dari perdagangan rempah-rempah dan logam mulia.
- Glory (Kejayaan): Tujuan politik untuk memperluas daerah kekuasaan dan menancapkan keunggulan bangsa di mata dunia.
- Gospel (Agama): Misi suci untuk menyebarkan agama Nasrani ke penduduk daerah baru yang mereka temukan.
-
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan TeknologiDitemukannya kompas sebagai penunjuk arah, penyempurnaan teknik pembuatan kapal yang kuat mengarungi samudra, serta teori Heliosentris yang menyatakan bahwa matahari adalah pusat tata surya yang membuktikan bahwa bumi itu bulat. Hal ini mengobarkan tekad para pelayar untuk menjelajah samudra.
Masuknya Bangsa Portugis dan Spanyol
Portugis dan Spanyol adalah dua bangsa pelopor penjelajahan samudra. Mereka berlomba menemukan Maluku yang digadang-gadang sebagai "Kepulauan Rempah-rempah" dengan rute yang berbeda untuk menghindari bentrokan di jalan.
-
Bangsa Portugis (Rute Timur)Portugis menyusuri pantai barat Afrika, memutar di Tanjung Harapan, lalu menuju India dan Nusantara.
- Bartholomeu Dias (1488): Berhasil mencapai ujung selatan Benua Afrika yang dinamakan Tanjung Harapan (Cape of Good Hope).
- Vasco da Gama (1498): Melanjutkan rute Dias dan berhasil mendarat di Kalikut, India, pusat perdagangan rempah Asia.
- Alfonso de Albuquerque (1511): Berhasil menaklukkan Malaka. Ini adalah pencapaian strategis karena Malaka adalah pintu gerbang perdagangan Nusantara. Dari sini, mereka melanjutkan ke Maluku pada 1512.
-
Bangsa Spanyol (Rute Barat)Spanyol memilih berlayar ke arah barat menyeberangi Samudra Atlantik dan Pasifik.
- Ferdinand Magelhaens: Memimpin armada Spanyol namun tewas di Filipina akibat konflik lokal.
- Sebastian del Cano (1521): Melanjutkan ekspedisi Magelhaens dan berhasil mendarat di Tidore (Maluku), lalu kembali ke Spanyol. Ia orang pertama yang berhasil mengelilingi dunia.
-
Konflik dan Perjanjian Saragosa (1529)Pertemuan Portugis yang bersekutu dengan Kerajaan Ternate dan Spanyol yang bersekutu dengan Kerajaan Tidore di Maluku memicu perang. Untuk menyelesaikannya, dibuatlah Perjanjian Saragosa yang berisi:
- Spanyol harus meninggalkan Maluku dan memusatkan kekuasaannya di Filipina.
- Portugis tetap menguasai perdagangan di Maluku.
Masa Kekuasaan VOC (1602–1799)
Belanda datang pertama kali pada 1596 di Banten dipimpin Cornelis de Houtman, namun diusir karena sikapnya yang sombong. Belanda kemudian mengirim kembali ekspedisi Jacob van Neck (1598) yang sukses besar. Keuntungan yang besar memicu banyaknya pedagang Belanda yang datang, sehingga terjadi persaingan tidak sehat. Untuk menyatukan pedagang Belanda, didirikanlah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) pada tahun 1602.
-
Hak Istimewa VOC (Hak Oktroi)Pemerintah Belanda memberikan wewenang luar biasa yang membuat VOC bertindak layaknya "Negara dalam Negara". Hak-hak tersebut meliputi:
- Hak Monopoli: Hak tunggal untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di wilayah antara Tanjung Harapan hingga Selat Magelhaens.
- Hak Kedaulatan (Sovereignty): Hak untuk memiliki angkatan perang sendiri, mendirikan benteng pertahanan, mencetak mata uang sendiri, dan menyatakan perang atau damai dengan raja-raja Nusantara.
-
Kebijakan Politik dan Ekonomi VOCUntuk mengeruk keuntungan maksimal, VOC menerapkan berbagai kebijakan yang menyengsarakan rakyat, seperti:
- Pelayaran Hongi: Patroli laut menggunakan perahu kora-kora bersenjata lengkap untuk mengawasi pedagang Maluku agar tidak menjual rempah ke bangsa lain (penyelundupan).
- Ekstirpasi: Hak untuk menebang dan memusnahkan tanaman rempah-rempah penduduk jika jumlahnya berlebihan, tujuannya agar harga tetap mahal dan stabil.
- Devide et Impera (Adu Domba): Strategi politik memecah belah persatuan, baik antar kerajaan maupun di dalam istana kerajaan sendiri, untuk memudahkan penaklukan. Contohnya adalah VOC membantu Aru Palaka melawan Sultan Hasanuddin.
-
Runtuhnya VOCKekuasaan VOC berakhir dan dibubarkan pada 31 Desember 1799. Faktor utamanya adalah korupsi yang parah di semua tingkatan pegawai, biaya perang yang membengkak, dan kalah bersaing dengan kongsi dagang Inggris (EIC).
Masa Pendudukan Inggris dan Belanda
Setelah VOC runtuh, Nusantara diambil alih langsung oleh pemerintah negara. Pada periode ini, terjadi perebutan kekuasaan antara Belanda (yang saat itu di bawah pengaruh Prancis) melawan Inggris.
-
Masa Republik Bataaf / Daendels (1808–1811)Belanda mengirim Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal dengan tugas utama: Mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris. Karena tugas militer ini, Daendels memerintah dengan tangan besi (diktator).
- Jalan Raya Pos (Grote Postweg): Membangun jalan sepanjang ±1.000 km dari Anyer (Banten) hingga Panarukan (Jawa Timur) untuk mempercepat mobilitas pasukan perang. Pembangunannya menggunakan sistem Kerja Rodi yang menelan ribuan korban jiwa.
- Bidang Pertahanan: Membangun pabrik senjata di Surabaya dan Semarang serta pangkalan armada laut di Ujung Kulon.
-
Masa Pendudukan Inggris / Raffles (1811–1816)Belanda akhirnya kalah oleh serangan Inggris dan menyerahkan kekuasaan melalui Kapitulasi Tuntang. Inggris menunjuk Thomas Stamford Raffles sebagai pemimpin. Ia dikenal sebagai tokoh liberal yang lebih humanis daripada Daendels.
- Sewa Tanah (Landrent System): Menghapus segala bentuk kerja paksa dan penyerahan wajib, menggantinya dengan sistem sewa tanah. Petani bebas menanam apa saja, namun wajib membayar pajak sewa karena tanah dianggap milik negara. (Sistem ini gagal karena budaya feodal masih kuat).
- Peninggalan Ilmu Pengetahuan: Menulis buku sejarah monumental berjudul "History of Java", merintis pembangunan Kebun Raya Bogor, serta menemukan kembali dan memugar Candi Borobudur yang tertimbun tanah.
Masa Tanam Paksa dan Politik Etis
Setelah Inggris pergi pada tahun 1816, Belanda kembali berkuasa. Kondisi keuangan Belanda hancur lebur yang disebabkan kas kosong akibat utang Perang Napoleon di Eropa dan biaya besar memadamkan Perang Diponegoro. Untuk menyelamatkan negara, Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830 mencetuskan Tanam Paksa (Cultuur Stelsel).
-
Mekanisme dan Penyimpangan Tanam PaksaSistem ini mewajibkan rakyat menanam tanaman ekspor seperti tebu, kopi, dan nila yang laku keras di pasar Eropa. Dalam teori, sistem ini terlihat menyejahterakan rakyat, namun dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan yang sangat kejam.
| Aturan Tertulis (Statuta) | Penyimpangan di Lapangan |
|---|---|
| Tanah yang digunakan untuk tanaman wajib maksimal 20% (seperlima). | Kenyataannya, tanah yang diambil seringkali lebih dari setengah, bahkan seluruh tanah subur diambil. |
| Tanah untuk tanaman wajib bebas dari pajak. | Rakyat tetap diharuskan membayar pajak atas tanah yang sudah diserahkan tersebut. |
| Waktu pengerjaan tidak boleh melebihi waktu menanam padi (kurang dari 3 bulan). | Waktu pengerjaan melebihi waktu tanam padi karena tanaman ekspor butuh perawatan rumit. |
| Kelebihan hasil panen akan dikembalikan kepada rakyat. | Kelebihan hasil panen tidak dikembalikan dan diambil oleh pejabat kolonial. |
| Kegagalan panen (hama/bencana) ditanggung pemerintah. | Kegagalan panen ditanggung sepenuhnya oleh petani. |
-
Masa Liberal (Undang-Undang Agraria 1870)Setelah Tanam Paksa dihapus karena protes kaum humanis, muncul Masa Liberal. Pemerintah Belanda mengeluarkan UU Agraria 1870.
- Isi UU Agraria: Pihak swasta asing diperbolehkan menyewa tanah di Indonesia untuk membuka perkebunan besar (seperti perkebunan teh, karet, tembakau di Deli).
- Dampak: Rakyat tidak lagi dipaksa menanam, tetapi menjadi kuli kontrak di tanah mereka sendiri dengan upah sangat rendah.
-
Politik Etis (Balas Budi)Kritik tajam dari Van Deventer dalam artikel "Een Eereschuld" (Utang Budi) melahirkan Politik Etis pada 1901. Lahirlah tiga prorgam utama (Trias Van Deventer) yang berupa:
- Irigasi: Membangun bendungan (praktiknya: air dialirkan ke perkebunan Belanda dulu, sisa baru ke sawah rakyat).
- Emigrasi/Transmigrasi: Memindahkan penduduk Jawa ke Sumatera (praktiknya: untuk memenuhi kebutuhan kuli murah di perkebunan Deli).
- Edukasi: Membuka sekolah bagi pribumi. Inilah satu-satunya program yang melahirkan Golongan Terpelajar yang kelak memimpin pergerakan nasional.
Perlawanan Pahlawan Nasional
Perlawanan pada masa ini masih bersifat kedaerahan (belum bersatu se-Indonesia), bergantung pada pemimpin karismatik, dan mudah diadu domba.
-
Perang Paderi (Sumatera Barat, 1821–1837)
- Perang ini dimulai dengan konflik internal antara Kaum Paderi yang berisi para ulama yang ingin memurnikan Islam melawan Kaum Adat yang berisi bangsawan yang suka judi atau sabung ayam.
- Kaum Adat terdesak dan meminta bantuan Belanda. Perjanjian dibuat, Belanda membantu Adat menyerang Paderi.
- Akhirnya Kaum Adat sadar Belanda hanya ingin menguasai, mereka berbalik bersatu dengan Paderi di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol.
-
Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825–1830)
- Perang ini disebabkan Belanda memasang patok jalan menerobos makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo tanpa izin.
- Pangeran Diponegoro menggunakan taktik Gerilya, yaitu menyerang tiba-tiba lalu menghilang ke hutan.
- Belanda menerapkan strategi Benteng Stelsel untuk mempersempit gerak pasukan Diponegoro. Pada 1830, Diponegoro dijebak dengan ajakan perundingan di Magelang, lalu ditangkap dan dibuang ke Makassar.
-
Perang Aceh (1873–1904)
- Merupakan perang terlama dan tersulit bagi Belanda. Rakyat Aceh sangat militan dengan semangat Jihad.
- Strategi: Belanda mengirim ahli Islam Snouck Hurgronje untuk memata-matai. Sarannya adalah "Pecah belah persatuan antara Ulama dan Uleebalang (bangsawan)". Belanda mendekati bangsawan dengan jabatan, lalu menghabisi ulama.
- Perlawanan Sultan Agung (Mataram Islam vs VOC)
- Sultan Agung bercita-cita menyatukan seluruh Pulau Jawa, namun terhalang oleh kekuasaan VOC di Batavia. Ia juga menolak monopoli dagang VOC yang merugikan pedagang pribumi.
- Serangan ke Batavia dilakukan dua kali, yaitu tahun 1628 dan 1629. Kedua serangan ini gagal karena kurangnya pasokan makanan (lumbung padi dibakar VOC), wabah penyakit, dan jarak tempuh yang terlalu jauh.
- Meski gagal mengusir VOC, Sultan Agung mewariskan kebudayaan seperti Kalender Jawa (perpaduan Tahun Saka dan Hijriah).
- Perlawanan Sultan Hasanuddin (Makassar vs VOC)
- Diberi julukan "Ayam Jantan dari Timur" karena keberaniannya dalam pertempuran laut.
- Penyebab: Menolak monopoli dagang VOC di pelabuhan Somba Opu yang merupakan bandar perdagangan rempah internasional.
- VOC melakukan politik adu domba (Devide et Impera) dengan memanfaatkan Arung Palakka (Raja Bone) untuk menyerang Makassar.
- Sultan Hasanuddin terdesak dan terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya (1667) yang sangat merugikan, yaitu: VOC memonopoli dagang, Makassar harus melepas wilayah kekuasaannya, dan membayar ganti rugi perang.
- Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa (Banten vs VOC)
- Banten adalah pelabuhan lada terbesar yang menjadi saingan Batavia. Sultan Ageng menolak aturan monopoli VOC.
- VOC kembali menggunakan taktik adu domba. VOC menghasut putra Sultan Ageng, yaitu Sultan Haji, dengan iming-iming kekuasaan. Terjadilah perang saudara antara ayah dan anak. Sultan Ageng akhirnya tertangkap dan dipenjara hingga wafat.
- Perang Banjar (Kalimantan Selatan, 1859–1905)
- Belanda campur tangan dalam pengangkatan Sultan Banjar dan ingin menguasai tambang batu bara di wilayah tersebut.
- Pangeran Antasari menyatukan rakyat dengan semboyan "Haram Manyerah Waja Sampai Kaputing" (Pantang menyerah, berjuang sekeras baja sampai akhir).
- Setelah Pangeran Antasari wafat karena sakit, perjuangan dilanjutkan keturunannya namun perlahan dapat diredam Belanda.
- Perang Jagaraga (Bali, 1846–1849)
- Perang ini disebabkan oleh sengketa mengenai Hak Tawan Karang, yaitu hak raja-raja Bali untuk menyita kapal yang terdampar di perairannya beserta seluruh isinya. Belanda menuntut hak ini dihapus.
- Tokoh: I Gusti Ketut Jelantik (Patih Kerajaan Buleleng).
- Rakyat Bali melakukan Puputan (perang habis-habisan sampai titik darah penghabisan) demi mempertahankan harga diri dan kedaulatan kerajaan.
Masa Pendudukan Jepang (1942–1945)
-
Gerakan Tiga A
- Semboyan: Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia.
- Perwujudan: Melakukan propaganda keliling daerah untuk meyakinkan rakyat bahwa Jepang adalah "Saudara Tua".
- Gerakan ini gagal dan dibubarkan pada 1943 karena rakyat tidak bersimpati. Propaganda ini terlalu menonjolkan kepentingan Jepang.
-
PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat)
- Diketuai oleh "Empat Serangkai" yaitu Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur.
- Bertujuan untuk membujuk kaum Nasionalis dan Intelektual untuk mengerahkan tenaga rakyat membantu perang.
- Tetapi, para pemimpin nasionalis justru memanfaatkan rapat-rapat raksasa Putera untuk menyebarkan semangat nasionalisme. Akhirnya Jepang membubarkan Putera.
-
Jawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa)
- Dibentuk pada tahun 1944 sebagai pengganti PUTERA. Pimpinan dipegang langsung oleh militer Jepang (Gunseikan).
- Tugasnya adalah mengumpulkan padi, permata, besi tua, dan harta benda rakyat untuk perang secara paksa. Organisasi ini diawasi sangat ketat sampai ke level desa.
-
Organisasi Militer & Semimiliter
- Seinendan & Keibodan: Organisasi pemuda dan pembantu polisi untuk pertahanan sipil (garis belakang).
- Heiho: Prajurit Indonesia yang masuk ke dalam struktur tentara Jepang, diberi senjata, dan dikirim ke luar negeri (seperti Burma) untuk perang garis depan.
- PETA (Pembela Tanah Air): Tentara yang dibentuk untuk mempertahankan wilayah Indonesia sendiri. Memiliki perwira Indonesia dan merupakan cikal bakal TNI.
-
Romusha (Kerja Paksa)
- Jepang menyebut Romusha sebagai "Prajurit Ekonomi" agar rakyat mau ikut. Kenyataannya, mereka dikirim paksa membuat gua pertahanan dan jalan raya sampai mati kelaparan.
Perubahan Masyarakat Akibat Penjajahan
- Terjadinya Stratifikasi SosialPada masa Belanda, masyarakat digolongkan secara rasis dalam hukum dan peradilan.
- Golongan I (Eropa): Orang Belanda dan kulit putih lainnya. Memiliki hak istimewa tertinggi.
- Golongan II (Timur Asing): Orang Cina, Arab, dan India. Biasanya pedagang yang menjadi perantara.
- Golongan III (Pribumi/Bumiputra): Penduduk asli Indonesia. Lapisan paling bawah, sering disebut Inlander.
- Terbukanya Akses PendidikanPendidikan Barat membuka peluang Mobilitas Sosial Vertikal (naik status). Anak petani yang sekolah bisa menjadi pegawai pemerintah, dokter, atau guru, sehingga status sosialnya naik melebihi orang tuanya. Selain itu, dengan adanya pendidikan menyebabkan munculnya Golongan Elite Baru (Elite Intelektual) yang menggantikan peran Elite Tradisional (Raja/Bangsawan) sebagai pemimpin masyarakat.
- Perubahan Sistem EkonomiMasuknya uang menggantikan sistem barter. Rakyat mulai mengenal uang kertas dan logam untuk membayar pajak. Petani tidak lagi hanya menanam padi untuk dimakan sendiri, tapi mulai menanam tanaman dagang seperti tebu dan tembakau untuk dijual.
Penutup
Nah, itulah perjalanan bangsa kita, mulai dari masa penjelajahan samudra, masuknya kolonialisme dan imperialisme, terjadinya berbagai perpindahan kekuasaan, hingga akhirnya sampai pada masa perjuangan kemerdekaan yang dilakukan secara bersama-sama.
Materi ini masih akan berlanjut pada pembahasan Perjuangan Kemerdekaan Bangsa Indonesia, yang membahas upaya bangsa Indonesia dalam membentuk dasar negara, rapat dan sidang BPUPKI serta PPKI, hingga berbagai peristiwa perjuangan setelah Kemerdekaan. Materi tersebut dapat kamu akses melalui tautan berikut ini. (Segera hadir)
Kalau kamu ingin mempelajari berbagai materi lainnya, jangan lupa untuk mengunjungi website LBB Immanuel untuk mendapatkan rangkuman dan latihan soal dari berbagai materi yang kamu butuhkan. Jika ada pertanyaan, silakan dituliskan di kolom komentar.
Sekian, dan sampai jumpa di pembahasan selanjutnya!
Posting Komentar