Materi Kondisi Perekonomian Indonesia pada Masa Kemerdekaan sampai Reformasi - IPS Kelas 8 Bab 4 Kurikulum Merdeka
Pernahkah kalian membayangkan bagaimana sebuah negara yang baru merdeka harus bertahan hidup tanpa memiliki mata uang resmi dan kas negara yang kosong? Sejarah perekonomian Indonesia adalah catatan panjang tentang perjuangan, krisis, dan kebangkitan bangsa dalam mengelola roda ekonomi demi kesejahteraan rakyat. Mari kita bedah dinamika perekonomian Indonesia dari masa ke masa!
A. Masa Awal Kemerdekaan (1945 - 1950)
Ketika Indonesia baru memproklamasikan kemerdekaan, kondisi ekonomi kita sangat kacau. Terdapat dua masalah besar yang mencekik perekonomian saat itu:
- Hiperinflasi (Lonjakan Harga Ekstrem): Terjadi karena mata uang sisa penjajahan Jepang beredar tak terkendali di masyarakat, sementara pemerintah belum memiliki mata uang sendiri dan kas negara masih kosong.
- Blokade Ekonomi Belanda (NICA): Pihak Belanda memblokade seluruh akses pelabuhan laut. Tujuannya mematikan jalur perdagangan agar ekonomi Indonesia hancur, sehingga negara ini mudah ditaklukkan kembali.
Untuk menyelamatkan negara dari kebangkrutan, pemerintah mengambil langkah penyelamatan yang berani:
- Pinjaman Nasional: Karena kas kosong, Menteri Keuangan Ir. Surachman menginisiasi agar Pemerintah meminjam uang dari rakyatnya sendiri. Rakyat menyetorkan uang secara sukarela ke bank negara untuk membiayai jalannya pemerintahan.
- Menerbitkan ORI (Oeang Repoeblik Indonesia): Pada Oktober 1946, pemerintah merilis ORI untuk menggantikan uang Jepang dan NICA. Ini bertujuan menarik uang lama agar harga barang turun, sekaligus menjadi simbol kedaulatan negara.
- Diplomasi Beras ke India: Saat India dilanda musibah kelaparan parah, Indonesia yang sedang surplus panen beras mengirimkan bantuan 500 ribu ton. Langkah cerdas ini menembus blokade laut Belanda sekaligus memancing simpati dunia, sehingga India menjadi pendukung aktif kemerdekaan RI.
- Menembus Blokade Perdagangan: Pemerintah menyelundupkan hasil bumi (karet, gula, teh) secara sembunyi-sembunyi melalui perwakilan dagang Indonesia Office (Indoff) di Singapura, lalu menukarnya dengan senjata dan obat-obatan yang mendesak dibutuhkan di dalam negeri.
B. Masa Demokrasi Liberal (1950 - 1959)
Memasuki tahun 1950-an, Indonesia menganut sistem demokrasi parlementer. Era ini membawa tantangan berat bagi perekonomian karena dua hal utama:
- Kabinet Sangat Rapuh: Pemerintahan sering berganti dalam hitungan bulan, sehingga program menteri ekonomi selalu terhenti di tengah jalan.
- Beban Utang Warisan: Akibat kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB), Indonesia "dipaksa" membayar tumpukan utang peninggalan pemerintah Hindia Belanda.
- Gunting Syafruddin (1950): Menteri Keuangan Syafruddin Prawiranegara memerintahkan pemotongan fisik (digunting jadi dua) uang kertas pecahan Rp5,00 ke atas. Setengahnya menjadi uang bernilai separuh, setengahnya lagi menjadi surat utang negara yang dapat diambil 30 tahun setelahnya. Tujuannya untuk mengurangi peredaran uang secara drastis untuk menekan inflasi.
- Program Benteng (1950): Diinisiasi Sumitro Djojohadikusumo untuk membimbing dan memberi modal kredit khusus kepada pengusaha pribumi agar bisa bersaing dengan pengusaha asing. Hasil: Gagal total karena dana kredit justru dipakai untuk pamer gaya hidup konsumtif.
- Nasionalisasi Perusahaan Asing (1958): Karena Belanda mengingkari janji terkait Irian Barat (Papua), pemerintah membalas dengan merampas ratusan perusahaan Belanda di Indonesia untuk dijadikan BUMN. Contoh: De Javasche Bank diubah menjadi Bank Indonesia.
C. Masa Demokrasi Terpimpin (1959 - 1967)
Pada fase ini, Presiden Soekarno mengambil alih kendali penuh. Sistem ekonomi beralih menjadi Etatisme, yaitu seluruh kegiatan ekonomi dipusatkan dan dikomando langsung oleh negara. Alih-alih membaik, ekonomi rakyat justru makin terpuruk dan harga bahan pokok melambung tinggi.
Penyebab hancurnya ekonomi di era ini adalah terkurasnya anggaran negara. Alih-alih menyejahterakan rakyat, pemerintah mencetak uang terus-menerus untuk membiayai "Proyek Mercusuar" demi unjuk kehebatan politik di mata dunia. Pembangunan fisik megah ini meliputi: Monas, Stadion GBK, Hotel Indonesia, Jembatan Semanggi, Gedung DPR/MPR, TVRI, dan Pertokoan Sarinah.
Kebijakan Demokrasi Terpimpin:
- Sanering Mata Uang (1959): Akibat cetak uang terus-menerus, pemerintah mencoba memangkas nilai uang (contoh: pecahan Rp1.000 menjadi hanya Rp100). Hasil: Percuma dan gagal, karena setelah dipangkas, pemerintah tetap kembali mencetak uang baru untuk proyek.
- Deklarasi Ekonomi / Dekon (1963): Pedoman perbaikan ekonomi ini hanya indah di atas kertas. Pelaksanaannya mandek karena pemerintah saat itu lebih memprioritaskan ambisi konfrontasi politik luar negeri (seperti aksi "Ganyang Malaysia").
D. Masa Orde Baru (1967 - 1998)
Ketika Presiden Soeharto naik tahta, beliau mewarisi negara yang bangkrut dengan inflasi menyentuh 636%, utang luar negeri yang menumpuk, dan pabrik yang mati suri. Orde Baru akhirnya membuang sistem etatisme dan membuka pintu menuju ekonomi pasar bebas global.
Seluruh kebijakan dipandu oleh tiga pilar utama:
(1) Stabilitas nasional yang sehat
(2) Pertumbuhan ekonomi tinggi
(3) Pemerataan pembangunan.
Langkah Penyelamatan dan Pembangunan Orde Baru:
- Penjadwalan Ulang Utang Luar Negeri: Pemerintah segera berunding dengan negara-negara kreditor di Tokyo dan Paris untuk meminta penundaan pembayaran utang masa lalu agar kas negara bisa dipakai membangun fondasi ekonomi dasar terlebih dahulu.
- Undang-Undang Penanaman Modal: Karena tidak punya modal dan teknologi, pemerintah memanjakan investor asing dan swasta masuk ke Indonesia dengan jaminan keamanan bisnis dan bebas pajak. Tujuan: Agar pabrik cepat berdiri, rakyat punya lapangan kerja, dan sumber daya alam terolah.
- Pembangunan Lima Tahun (Pelita): Ekonomi dibangun bertahap setiap lima tahun. Puncaknya pada 1984, Indonesia yang tadinya pengimpor beras berhasil meraih swasembada beras dan mendapat penghargaan dari FAO.
Runtuhnya Orde Baru: Pertumbuhan ekonomi puluhan tahun ternyata rapuh karena digerogoti KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). Saat krisis moneter Asia 1997 melanda, nilai Rupiah hancur. Perusahaan yang banyak utang dolar bangkrut masal, PHK merebak, harga barang melambung tinggi, memicu kerusuhan besar yang memaksa Soeharto mundur pada 1998.
E. Masa Reformasi (1998 - Sekarang)
Era Reformasi diawali dengan upaya berat menyelamatkan negara dari jurang krisis moneter 1998 dan membangun sistem ekonomi yang lebih sehat, transparan, serta tahan banting.
- B.J. Habibie: Memisahkan Bank Indonesia dari kendali pemerintah (menjadi independen) agar kebijakan moneter diatur berdasarkan hitungan ekonomi, bukan intervensi politik. Beliau juga melikuidasi bank-bank bermasalah.
- Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Memperkuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) karena sektor ini terbukti lebih tahan banting dalam krisis dibandingkan perusahaan konglomerat besar.
- Megawati Soekarnoputri: Melakukan penjadwalan ulang utang negara dan merestrukturisasi sistem perbankan. Ekonomi mulai mencatat pertumbuhan positif pada 2002.
- Susilo Bambang Yudhoyono (SBY): Menjaga stabilitas makro ekonomi. Salah satu kebijakannya adalah Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai "bantalan" daya beli masyarakat miskin ketika pemerintah harus mencabut subsidi dan menaikkan harga BBM.
- Joko Widodo: Menggenjot pembangunan infrastruktur masif di seluruh negeri untuk memperlancar distribusi logistik dan efisiensi biaya ekonomi jangka panjang.
- Prabowo Subianto: Memfokuskan arah kebijakan pada ketahanan pangan dan energi, program makan bergizi gratis, hilirisasi industri, penguatan pertahanan negara, serta peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Demikianlah ringkasan dinamika perekonomian Indonesia. Tata kelola pemerintahan yang bebas dari korupsi, kestabilan politik, dan kemandirian bangsa adalah kunci utama untuk menciptakan ekonomi yang kuat. Semoga kalian sebagai generasi penerus mampu membawa perekonomian Indonesia melesat jauh lebih baik di masa depan!
📚 Daftar Pustaka
- Suparno, N., & Tamtomo, T. D. Haryo. (2023). IPS 2 untuk SMP/MTs Kelas VIII (K-MERDEKA). Penerbit Erlangga.

Posting Komentar